Selasa, 04 September 2012

Don't Love Me, Please! (7)


                   *DON’T LOVE ME, PLEASE! (7)*









 

          “Mengapa kamu menghindariku? Do you hate me? Tell me what’s my wrong, Sakura” pinta Bryan.

          “Aku tidak menghindari siapa pun. I never can hate you” jawabku. “So?” tanya Bryan singkat.

          Aku hanya diam seribu bahasa. “Ok, now I understand you. You never want me again. I just want you to know, I still love you and still wanting you like I need you, Sakura. I’ll go out from your life. Aku akan pergi ke Autralia untuk pergi dari hadapanmu untuk selamanya” ucap Bryan.

          Kata-kata Bryan membuat air mataku menetes membasahi kedua pipiku. Hatiku ‘tak bisa lagi ku kuasai. Aku memeluk Bryan dari belakang. “Don’t let me go when I’m this low” pintaku.

          “Hmm… So please tell me why?” Bryan berbalik arah padaku.

          “Can’t stand living with you, but don’t wanna live without you. I’m missing loving you.” jawabku.

          “Ada kah kemungkinan rasa itu kembali ada?” Bryan menatapku dalam-dalam. “I can’t promise” jawabku. “Thanks” Bryan memelukku.

          “If you know, I always love you. I never can forget you.” ucapku dalam hati.












 
*Esok harinya*
          ‘Tak lupa aku mengkonsumsi obat-obatku setelah selesai sarapan secara diam-diam didalam kamar. “Sakura!” Suzane tiba-tiba masuk ke dalam kamar.

          Untung aku telah mengkonsumsi obatku saat dia masuk. Aku langsung menyembunyikan obat-obatku dibalik punggungku. “What is it?” tanya Suzane penasaran dengan yang ada dibalik punggungku.

          “Nothing… That’s just a vitamin… Ayo, kita kan mau ke taman…” ajakku seraya memasukkan obat-obatku ke dalam tas tangan yang kubawa. “Oke. Let’s go!” Suzane percaya pada alasanku. (Jangan ditiru ya bohongnya itu ^-^)

          Kami langsung menuju mobil Mark yang memang paling agak luas dan cukup untuk kami bertujuh.













*Ditaman*
          “Wow! Ternyata bukan hanya taman bunga, namun disini pun ad ataman untuk hewan-hewan yang telah jinak” kagumku dalam hati.

          Aku melihat seekor bayi panda yang lucu. “Wow! There’s a panda!” teriak Bryan. “Suzane, tolong foto aku dan Sakura saat kami memeluk bayi panda itu” Bryan meminta pada Suzane. “Alright!” jawab Suzane. (Aku juga mau u,u’)

          Bryan meminta izin kepada pengawas panda tersebut untuk dapat berfoto dan akhirnya kami pun di izinkan. Suzane memotret kami dalam beberapa gerakan. Bryan dan aku memang kebetulan sama-sama menyukai binatang panda. (Biar so sweet aja :D)

          Waktu 15 menit berfoto ku rasa masih kurang, namun aku harus memberikan giliran kepada pengunjung yang lain. (15 menit kan udah lama banget untuk sekedar foto u,u)

          Tiba-tiba Mark menarikku ke sebuah kandang binatang lainnya. “Oh My God! A Crocodile?!” aku berteriak histeris lalu berlari kembali ke Bryan dan berlindung di balik punggungnya.

          “Why? That’s just a crocodile baby…” tanya Mark heran. “Dia phobia terhadap itu” jawab Bryan seraya merentangkan tangan kanannya untuk menjauhi Mark dariku.

          “Oops! Sorry! I don’t know about it” ucap Mark merasa bersalah. “Ok, no problem” jawabku mulai menjauh dari Bryan kembali.

          Entah mengapa hatiku dan otakku selalu mencari Bryan kapan pun. “Tuhan, aku mohon buang rasa ini… Aku ‘tak sanggup, Tuhan…” doaku dalam hati.

          Saat aku dan Suzane tengah menikmati asiknya pemandangan taman bunga yang sangat indah, tiba-tiba… ‘Nothing’s gonna change my love for you, you ought to know by now how much I love you, one thing you can be sure of I’ll never ask for more than your love… Nothing’s gonna change my love for you, you ought to know by now how much I love you, the world may change my whole life through but nothing’s gonna change my love for you…’ ponselku berdering. (Sempetin jingkrak-jingkrak dulu lahh… ^-^)

          Aku dan Suzane pun agak terkejut dengan deringan dari ponselku. “Untung lagi nggak ada Kak Bryan…” omel Suzane. “Hehehe… Maaf” ucapku.

          Deringan lagu ini memang deringan sebuah kenangan diantara aku dan Bryan. (#TeamMcfadden jangan pada ngamuk dulu yaa ^-^)

          Aku langsung meraih ponselku di tas tanganku. Aku melihat nama yang tertera di layar ponselku ‘My Brother’. “Ada apa ya Kak Edward menelponku?” tanyaku dalam hati.

          “Kak Edward?” tanya Suzane. Aku hanya mengangguk dan menerima panggilan telpon dari Kak Edward.

          “Hallo?” sapaku awal. “Kakak sempat dapat kabar dari Bryan. Sakura, apa benar kamu sempat pingsan kemarin malam lusa?” tanya Kak Edward to the point dengan nada khawatir. “Iya, Kak. Maaf aku lupa dengan obatnya” aku mengecilkan volume suaraku dan menjauh pergi untuk menjaga jarak dengan Suzane agar dia ‘tak mendengar pembicaraanku.

          “Sakura… Kamu kan sudah janji. Pokoknya kakak nggak mau hal itu terulang lagi. Kalau hal tersebut terulang kembali, kakak akan menjemputmu dan langsung membawamu pulang” ancam Kak Edward. “Iya, Kak. I’m promise.” janjiku.

          “Tadi pagi udah dikonsumsi?” tanya Kak Edward. “Sudah” jawabku singkat. “Hmm… Sakura, akan lebih baik kalau Mom and Dad dan juga Bryan tau tentang penyakitmu…” ucap Kak Edward lagi.

          “Don’t say anything about it! Tolong Kak jangan… Cukup aku dan Kakak aja yang tau, jangan beri tau yang lain Kak… Aku ‘tak ingin membuat siapa pun sedih, aku juga ‘tak ingin dikasihani… Aku tetap ingin hidup normal layaknya remaja pada umumnya Kak… Tolong jangan…” pintaku memohon. (Sebenarnya apa yaa penyakitnya Sakura? Hayoo apa? :D)

          “Hmm… Baiklah. Sudah dulu ya, Kakak mau konsultasi ke dokter kamu dulu. Jaga dirimu baik-baik… See you, my little sister” Kak Edward menutup panggilan.

          “Kuharap Kak Edward tetap menjadikan hal ini sebagai rahasia” doaku dalam hati.(^-^)




#Lanjut next time ya ^-^
#Thank you so much for reading my story (^-^)
#I’m sorry if my story make you feel boring (^-^)v

Senin, 03 September 2012

Don't Love Me, Please! (6)


                                  *DON’T LOVE ME, PLEASE! (6)*











*1 jam kemudian – Dikamar*
          Aku membuka mataku. Kulihat semuanya terlihat sangat khawatir. Suzane yang tertidur di samping tempat tidurku terbangun ketika aku menyentuhnya. “Sakura! Kamu sudah sadar?!” dia berteriak girang. Aku hanya tersenyum tipis. Mark, Bryan, Nicky dan Kian yang mendengar teriakan Suzane langsung menoleh kearahku.

          Mark buru-buru mendatangiku. “Tenang saja, dokter sebentar lagi akan datang untuk memeriksamu” ucap Mark. “What?! A doctor?! No, I didn’t need a doctor… I’m fine… I’m not sick…” jawabku mengelak.

          “Sakura… But…” belum selesai Suzane bicara, “I won’t a doctor come!” pintaku memotong pembicaraan Suzane.

          Suzane, Bryan, Nicky, Kian, Mark, dan Shane terheran-heran mendengar jawabanku. “Oke…” jawab Mark seraya mengambil ponsel dari saku celananya.

          “I just need times to can rest. Would you mind leave me alone, please?” pintaku ke mereka. “Ok, kami akan membiarkanmu beristirahat dan menenangkan diri” ucap Bryan pasrah.

          Mereka pun keluar dari kamarku. Setelah mereka menutup pintu, aku mengambil tas tanganku. Aku mengambil obat-obat dari tas tanganku dan meneguknya dengan segelas air putih yang ada diatas meja berlaci ku. Aku lupa mengkonsumsi obat-obat ini tadi pagi, makanya kesehatanku tiba-tiba menurun. (Keras kepala ~(-_-)~)













*Esok paginya*
          “Morning!” aku menyapa Bryan, Suzane, Mark, Shane, Nicky, dan Kian yang tengah menikmati sarapan pagi ini.

          “Maaf ya atas kejadian tadi malam, hal itu ‘takkan terulang kembali kok” aku tersenyum kepada mereka. “Are you really fine now?” tanya Mark khawatir. “Yup” jawabku singkat.

          Aku menuju kursi dimeja makan yang kosong untuk menyantap sarapan ku.













*Selesai sarapan*
          “Sakura, kita main kuda lagi yok!” ajak Suzane padaku. Saat aku ingin berdiri dari kursi meja makan, aku merasakan sakit dikepala dan rasa mual. “Kamu duluan saja, aku akan menyusul” aku kembali duduk di kursi meja makan. “Oke! Tolong cepat yaa..” Suzane berlari keluar.

          Sakit dikepalaku terasa berat. Penglihatanku mulai buram. Aku mncoba berlari ke arah kamar walau beberapa kali terjatuh. (Hayoo sebenarnya Sakura sakit apaan?? :D)













*Dikamar*
          Dengan bersusah payah aku mencapai kamarku. Aku membuka laci dan mengambil tas tanganku yang berisi obat-obatanku. Aku meneguknya dengan air minum yang tersisa tadi malam.

          Aku merasakan sakit dikepalaku terasa mulai reda. Rasa mual pun hilang begitu saja. “Akhirnya… Thanks, God” ucapku bersyukur.

          Setelah ku rasa sakit dikepalaku sudah pulih, aku beranjak dan berjalan menuju halaman belakang.













*Dihalaman Belakang*
          “Sakura, kamu kok lama banget sih? Kamu ngapain aja?” tanya Suzane to the point.

          Belum sempat aku menjawab pertanyaan Suzane, tiba-tiba… “Sakura! Are you ok?” tanya Bryan berlari memelukku. “Bryan, apa-apaan sih! Lepaskan!” elakku. (Kakak Vogue dipnjam bentar yaa ^-^)

          “Maaf, tadi aku mendengar suara pot pecah. Aku takut aku terluka. Untungnya pot tersebut tidak melukaimu” Bryan melepaskan pelukannya dariku.

          “Pot pecah? Pasti itu pot yang tidak sengaja tersenggol olehku ketika aku menuju kamar dengan oleng” tebakku dalam hati.

          “Sudahlah… Kita kan mau nunggang kuda. Ayo!” ajak Suzane. “Ku harap mereka tidak menyadari gelagatku yang aneh” doa-ku dalam hati.













*Malamnya*
          “Ayo! Mereka sudah nunggu di ruang tengah.” Suzane menarik tanganku. “Baiklah duluan saja” pintaku. “Oke, aku tunggu dibawah yaa” Suzane memnutup pintu kamar dan pergi ke lantai bawah menuju ruang tengah.

          Mala mini kami ingin menonton film action berseri. Tapi sebelum turun kebawah, aku harus meneguk obat-obat ku. Aku ‘tak ingin kejadian seperti kemarin malam terjadi lagi mala mini.

          Setelah meneguk obat-obat ku, aku menghela nafas dan turun menuju ke ruang tengah dimana mereka telah menungguku.













*Diruang tengah*
          “Sakura?! Ayo sini! Film nya udah mulai nih!” Suzane memintaku duduk disamping Bryan. Dengan menghela nafas dalam-dalam aku terpaksa mengikuti perintah Suzane.

          “Hay, Sakura?” sapa Bryan. Aku hanya diam menatap layar tv seolah terfokus menonton film.

          “Kamu masih marah padaku ya? Oke, aku akan pindah” Bryan mulai ingin beranjak. Segera ku cegah dia, aku menggenggam lengannya saat dia mau berdiri beranjak pergi.

          “Tetaplah disini, disampingku.” aku tetap menatap layar tv. Entah mengapa hati dan otakku bertindak bersamaan. Dan entah mengapa aku menginginkan dirinya disampingku.

          Bryan kembali duduk disampingku. “Thanks” ucapnya.

          “Kau yakin Mark tidak akan cemburu?” tanya Bryan. Aku menoleh kearah Mark, kulihat ia sangat terfokus sekali pada layar tv. Aku tau film ini adalah film kesukaan Mark.

          “Itu bukan urusanmu” jawabku agak cuek. “Hmm… Ok” jawab Bryan.

          “Don’t you know, I don’t care about Mark. I just still love you. If you know, I need you.” tangisku dalam hati.

          “Sakura, bisakah aku bicara 5 menit saja hanya denganmu. Aku ingin bicara empat mata, face to face” pinta Bryan berbisik. Ternyata Suzane mendengar bisikan Bryan. “Sudah sana, selagi mereka bertiga fokus banget sama film ini. Nanti biar aku yang cari alasan” kata Suzane.

          Bryan menarik tanganku keluar dari ruang tengah. Bryan menarikku menuju ruang tamu.

          “Mengapa kamu menghindariku? Do you hate me? Tell me what’s my wrong, Sakura” pinta Bryan. Bryan menatap mataku dalam-dalam, seakan mengisyaratkan bahawa dirinya sangat serius. (^-^)










#Lanjut next time ya ^-^
#Thank you so much for reading my story (^-^)
#I’m sorry if my story make you feel boring (^-^)v

Minggu, 02 September 2012

Don't Love Me, Please! (5)


                   *DON’T LOVE ME, PLEASE! (5)*











*Didepan Salon Mewah*
          Kali ini Shane mengajakku ke sebuah salon yang mewah.













*Disalon*
          “Mbak, tolong perawatan dari ujung rambut sampai ujung kuku jari kaki yang paling lengkap dan terbaik!” pinta Shane kepada salah seorang pelayan salon. (Kasihan #TeamFilan daritadi jealous.. ‘~,~)

          “Shane?!” aku makin bingung dengan apa maksud Shane. “Ikuti saja!” jawabnya tersenyum.

          Pelayan salon tersebut mengantarku untuk membersihkan rambut terlebih dahulu.

          Selesai membersihkan rambutku, pelayan tersebuk mengantarku ke salah satu tempat duduk. “Pakai cream apa, mbak?” tanya pelayan tersebut.

          “Umm…” aku perfikir sejenak. “Yang melembutkan rambut saja, mbak!” pinta Shane. “Baik” jawab pelajan tersebut. Oke, sekarang aku masih pasrah dengan keadaanku. Setiap aku ingin menolak rasanya sulit ketika aku melihat senyumnya itu.

          Aku juga pasrah mereka memotong rambutku bagian depan untuk dijadika poni rata. Aku pun pasrah ketika mereka mengecat kuku-kuku jari tangan dan jadi kaki ku dengan warna sesuai permintaan Shane.

          Berjam-jam kemudian perawatannya pun akhirnya selesai. Aku bernafas lega. Sejujurnya aku paling kesal bila ada orang lain yang menyentuh rambutku. (Hayoo kenapa?? ^-^)

          Shane membayar semua perawatanku tadi dikasir. Setelah membayar, kami pun keluar dari salon dan kembali menuju mobil.













*Sesampainya di Villa*
          “Ok, sekarang mereka masih bermain di halaman belakang. Sekarang juga kamu buru-buru ke kamarmu dan memakai gaun ini, mereka akan mendandani wajahmu” Shane memintaku untuk sesegera mungkin dan meminta aku untuk tidak membuat suara gaduh dengan para makeover yang disewa Shane.

          Aku langsung menuju kamar bersama para makeover yang telah disewa oleh Shane.













*Dikamar*
          Aku telah berganti pakaian dengan gaun yang dipilih Shane. Aku sangat menyukai gaun ini, sangat cantik dan anggun.

          Kali ini aku harus pasrah kembali membiarkan para makeover mendandani wajahku.

          Sekitar 1 jam kemudian para makeover selesai mendandaniku. Mereka langsung berbenah dan pergi dari kamarku.

          ‘Tak lama kemudian… ‘Tok! Tok! Tok!’ “Sakura, are you ready now?” seseorang berbisik dari balik pintu kamar. Aku tau itu Shane. Aku langsung membuka pintu.

          Ketika melihatku Shane terlihat sangat terkejut yang membuatku heran. “Sudah kuduga” katanya dengan masih memasang tampang aneh. “Apanya?” tanyaku.

          “Sudahlah, ayo ikut!” Shane menggenggam tanganku dan berjalan perlahan. (#TeamFilan ada yang sudah jealous duluan?)













*Dihalaman Belakang*
          “Hello, everybody!!! Good evening, all!!!” teriak Shane sambil terus menggenggam tanganku. Aku memang agak kesusahan berjalan menggunakan sepatu hak tinggi di lantai Villa yang lumayan agak terasa sedikit licin.

          Bryan, Suzane, Mark, Kian, dan Nicky langsung menoleh kea rah kami. Dan seketika mereka semua memasang ekspresi aneh sekali.

          “Wow! Sakura, you’re like an angle.” Teriak Suzane sambil mendatangiku dengan ekspresi wajah yang masih terlihat agak aneh. “Wow! You’re like a princess, Sakura” kata Nicky dan Kian secara bersamaan. “Wow! You’re so beautiful in white, I like this dress. I know you’re a beautiful girl, but now you’re more than a very beautiful girl” ucap Mark mendatangiku. “Sakura, I can’t saying anything. ‘Cause you’re more than an angle…” ucap Bryan mendatangiku sambil mengayunkan tangannya seperti ingin menyentuhku.

          Mark yang sepertinya melihat Bryan ingin menyentuhku, langsung menggenggam tanganku pergi agak menjauh dari Bryan dan mendekati Shane.

          “Ini pasti berkat Shane kan?” tanya Mark kepadaku. “Yups” jawabku. “Thanks so much, Shane. You’re really my best friend” Mark memeluk Shane.

          “Sakura, maukah kamu pergi dinner bersamaku sekarang?” tanya Mark dengan antusias. Aku menengok dan melihat wajah Bryan yang tampak kecewa. “Baiklah” jawabku menerima ajakan Mark. “Ok, wait a minute. Aku akan berganti pakaian sebentar” Mark langsung bersorak dan berlari masuk ke dalam Villa.

          Aku kembali menengok dan melihat Bryan menatapku kecewa. Aku yakin, mungkin cara ini dapat membuatnya melupakanku dan berpaling dariku. Jujur, aku ‘tak ingin menyakitnya. Sekarang pun rasanya aku ingin memeluknya dan berkata ‘aku hanya ingin pergi dinner bersamamu’, tapi itu tidak mungkin terjadi.

          Tiba-tiba kepalaku terasa sangat berat sekali dan badanku lemas. Aku ‘tak sanggup menahan keseimbanganku dan ‘Brukk!!!’, aku terjatuh. Aku ‘tak dapat membuka mataku, aku pun hanya mendengar suara-suara memanggil namaku dengan khawatir. (^-^)










#Lanjut next time ya ^-^
#Thank you so much for reading my story (^-^)
#I’m sorry if my story make you feel boring (^-^)v